- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- Opta Paolo
Roma, VIVA – Timnas Italia mengalami catatan kelam dalam sejarah sepak bola mereka setelah gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kekalahan adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina di babak playoff memastikan juara dunia empat kali itu hanya akan menjadi penonton di turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi di era baru Piala Dunia dengan jumlah peserta yang diperluas dari 32 menjadi 48 tim. Secara logika, peluang lolos seharusnya jauh lebih besar. Namun kenyataannya, Italia tetap tersingkir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Banyak analisis bermunculan, mulai dari kemunduran Serie A hingga masalah pembinaan pemain muda. Namun jika melihat lebih dalam, penyebab kegagalan Italia kali ini sebenarnya jauh lebih sederhana dan lebih menyakitkan, tetapi kesalahan mereka sendiri sejak awal kualifikasi.
Italia sebenarnya masih memiliki kualitas untuk lolos. Seperti dilaporkan ESPN, Italia berada di peringkat 13 ranking FIFA dan skuad yang dimiliki juga tidak bisa dibilang tua. Dari sebelas pemain inti, hanya Matteo Politano yang berusia di atas 30 tahun. Dari segi kualitas, Italia masih berada di atas Bosnia dan Herzegovina.
Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, sempat menyinggung soal semangat juang timnya setelah pertandingan. Namun pernyataan itu justru memicu kritik. Sebab, jika berbicara soal semangat dan kerja keras, Bosnia menunjukkan hal yang sama, bahkan mungkin lebih besar.
Terlebih, Bosnia datang ke laga ini setelah bermain 120 menit dan adu penalti melawan Wales di laga sebelumnya, serta masih mengandalkan striker berusia 40 tahun, Edin Dzeko. Jika berbicara soal determinasi, Bosnia jelas tidak kalah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kiper Italia Gianluigi Donnarumma bahkan harus melakukan 10 penyelamatan sepanjang pertandingan, beberapa di antaranya penyelamatan kelas dunia. Bosnia melepaskan sekitar 30 tembakan sepanjang laga. Statistik itu menunjukkan Italia memang berada di bawah tekanan besar.
Masalah terbesar Italia sebenarnya terjadi jauh sebelum laga playoff. Mereka kalah lebih awal dalam fase kualifikasi, termasuk kekalahan dari Norwegia yang membuat posisi mereka menjadi sulit dan akhirnya harus melalui jalur playoff yang sangat berisiko. Dalam format satu pertandingan hidup mati seperti playoff, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
https://www.viva.co.id/bola/1889545-italia-tiga-kali-gagal-ke-piala-dunia-pengamat-sepak-bola-ungkap-penyebabnya