- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
- 100KPJ
- Intipseleb
- Sahijab
- popgames
- banyuwangi
- purwasuka
- gadget
- wisata
- padang
- TECHNO
- siap
- bogor
- banten
- banyumas
- NTT
- cianjur
- Jakarta
- jateng
- teknodaily
- jatim
- medan
- MADURA
- jogja
- lampung
- bali
- sulawesi
- Parenting
- semarang
- malang
- TANGERANG
- KALTIM
- Soccer
- mindset
- ceritakita
- gorontalo
- olret
VIVA – Manchester City pernah memanfaatkan satu momen krusial ketika Arsene Wenger menolak merekrut pemain incarannya.
Keputusan itu justru membuka jalan bagi The Citizens untuk memenangkan persaingan transfer, meski sang pemain sejatinya memimpikan berseragam Arsenal.
Kisah ini terjadi pada masa awal kebangkitan Manchester City pasca-akuisisi Abu Dhabi United Group pada 2008. Perlahan tapi pasti, klub asal Manchester tersebut menjelma menjadi kekuatan baru, bahkan kerap “membajak” pemain-pemain Arsenal.
Nama-nama seperti Emmanuel Adebayor, Gael Clichy, Kolo Toure, hingga Bacary Sagna sudah lebih dulu menyeberang dari Emirates Stadium ke Etihad.
Didukung dana melimpah milik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, City mampu menyaingi—bahkan mengalahkan—klub-klub besar dalam perburuan pemain. Salah satu contoh paling jelas adalah perekrutan Wilfried Bony pada Januari 2015.
Saat itu, Bony tengah berada di puncak performa bersama Swansea City. Dalam kurun 18 bulan, striker asal Pantai Gading tersebut mencetak 39 gol dan langsung menarik perhatian klub-klub elite Premier League. Arsenal dan Manchester City menjadi dua peminat utama.
Namun, di balik gemerlap transfer tersebut, tersimpan kisah pahit bagi Bony. Ia mengaku lebih memilih Arsenal, tetapi mimpi itu pupus karena faktor finansial.
Dalam wawancara bersama Ladbrokes yang dikutip Metro, Bony mengungkapkan cerita di balik gagalnya kepindahan ke London Utara.
“Setelah musim pertama saya di Swansea, ada tiga klub yang tertarik: Arsenal, Tottenham, dan Manchester City,” ujar Bony.
“Saya senang karena klub seperti Arsenal dan City menginginkan saya. Cara bermain City mirip dengan Swansea, jadi saya tahu saya bisa beradaptasi.”
Namun, segalanya berubah ketika City datang dengan tawaran di menit-menit akhir. Bony menyebut, gaji yang ditawarkan Manchester City berada di luar jangkauan Arsenal.
“City mengajukan tawaran di saat terakhir. Saya ingin bergabung dengan Arsenal, tapi uang yang City sodorkan saat itu tidak bisa ditandingi siapa pun, terutama soal gaji,” katanya.
“Ketika Arsene Wenger mendengar angka gaji tersebut, dia berkata: ‘Itu terlalu besar untuk kami!’”
Bony bahkan sempat bertemu langsung dengan Wenger di sebuah hotel di Swansea saat kedua tim bertanding. Namun hasilnya tetap sama. Arsenal mundur, City melangkah maju.
Your browser does not support amp-iframes.
https://www.viva.co.id/bola/1871258-kisah-penyesalan-pemain-termahal-afrika-batal-gabung-arsenal-karena-ngiler-gaji-dari-manchester-city